Yang datang dari ujung timur selepas hangatnya mentari
Kamu juga satu,
Yang kiranya hujan-hujan itu mengusik teriknya mentarik
Satu lagi,
Yang paling hening seraya senyap dengan segala sejukmu.
Kamu bukan peraduan, namun aku telah bertamu
Ruangan sejuk diantara banyaknya yang telah menerimaku
Kamu bukannya memilih, lama sudah kulihatmu
Dan aku berkata jua, aku baru mengenalmu.
Kali ini bukan "cahaya" yang kau cari dalam sungai ini
Atau bahagia pada kedalam tergelap yang dimiliki air
Angin ini berhembus sejenak, bukannya kebetulan
Menitipkan debu pada mata?, Kamu telah menangis
Sesalnya, tak ada yang bisa kulakukan kepada takdir
Tersadar diri ini hanya menggantung pada waktu
Sebelum semua telah benar-benar usai
Ada tutur yang telah tertitip pada ruangnya
Pesanan untuk menjaga diri dan agar ruangan tetap bersih
Jangan ada sentuhan debu seperti ini lagi
Hanya debu, biar disapu angin
Namun, sesalnya dan maafnya senyata itu.
Sincelery me,
I'm a burden, i'm a thieft.
Selasa, 15 Agustus 2022

Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances